31 July 2008

Keberanian Mengambil Resiko

Keberanian Mengambil Resiko
Oleh : Andrie Wongso


Dalam perjalanan hidup Jenderal Sun Tzu dikisahkan bahwa strategi perang untuk mencapai kemenangan itu bisa berubah detik demi detik, demi mengimbangi atau menganntisipasi perubahan strategi musuh. Strategi ini berpijak pada dasar pemikiran bahwa cara terbaik untuk menang perang adalah dengan menguasai kemampuan membaca jalan pikiran ahli strategi musuh. Dan barangsiapa mengetahui jalan pikir musuh dan mengetahui titik-titik kelemahannya, dipastiikan dia bisa memenangkan adu strategi tersebut.

Namun setiap strategi pasti mengandung risiko. Dan strategi peran Sun Tzu ditegaskan adanya prinsip mendasar yang mengatakan, "Kemenangan besar hanya bisa dilakukan orang yang berani ambil risiko besar". Prinsip ini menegaskan bahwa tanpa keberanian mengambil taktik berisiko besar, maka kemenangan besar sulit diraih. Inilah inti dari strategi perang Sun Tzu yang mensinergikan antara strategi perang yang cerdik dan matang dengan keberanian mengambil risiko besar demi kemenangan yang besar pula.

Dalam kehidupan non-kemiliteran pun seperti bidang manajemen, kewirausahaan, maupun kehidupan pribadi, kita mengenal prinsip strategi dan risiko semacam ini. Mungkin kita telah menyusun rencana dan menetapkan strategi untuk melakukan investasi, memulai bisnis baru, melakukan diversifikasi maupun ekspansi usaha. Ada target-target dan mimpi-mimpi besar dalam setiap tindakan tersebut. Ada peluang dan tantangan. Namun yang tidak boleh kita lupakan adalah faktor risiko yang sudah pasti ada dan melekat dalam setiap action kita. Ada risiko gagal, ada risiko berhasil. Itu pasti!

Contoh: mungkin berdasarkan perhitungan yang begitu matang, kita memiliki kemungkinan keberhasilan di atas 70%. Memang dalam strategi Sun Tzu kita diwajibkan untuk bisa memetakan keberhasilan lebih dulu. Memastikan kemenangan baru melakukan perang. Nah, jika rencana dan strategi telah dieksekusi sementara hasil yang didapat tidak sesuai perhitungan, itulah risiko sebuah action. Kita tidak mungkin berhenti bertindak hanya karena ingin menghilangkan sama sekali risiko kegagalan.

Seperti dalam kata-kata mutiara yang saya ciptakan, yang berbunyi; "Memang di dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti. Tetapi kita harus berani memastikan apa-apa yang ingin kita raih". Jadi dalam lapangan hidup apa pun, strategi itu penting. Tetapi keberanian mengambil risiko juga sangat penting. Ingat, strategi tanpa keberanian mengambil risiko tidak akan membawa kita ke tujuan apa pun.

Demikian dari saya Andrie Wongso
Salam sukses luar

Jadilah Yang Paling Baik

Jadilah Yang Paling Baik
Oleh : Eko Jalu Santoso - Founder Motivasi Indonesia,
Penulis BukuSetiap orang pasti memiliki keinginan menjadi manusia terbaik. Namun sayangya sekarang ini banyak orang yang mengartikan salah makna menjadi orang paling baik dalam hidup ini. Apakah itu dalam hubungan antara dua orang manusia atau lebih, apakah itu dalam kaitannya dengan pekerjaan, bisnis, usaha, persahabatan sampai dengan dalam kehidupan bertetangga dan bernegara.Banyak orang yang berusaha menjadi paling baik dibandingkan dengan orang lain dengan cara mengalahkan orang lain. Sebagian yang lain berusaha menjadi paling baik dengan merendahkan orang lain, bahkan ada yang dengan menyingkirkan orang lain.

Banyak juga yang berusaha menjadi lebih baik dibanding orang lain dengan hanya diukur dari nilai penampilan luar atau nilai ukuran keberhasilan duniawi semata, seperti memiliki mobil yang lebih mewah, rumah lebih besar, pakaian dan asesories lebih mahal, dll. Ada juga orang yang berusaha menjadi paling baik dibandingkan orang lain dengan ukuran lebih tinggi dalam kedudukan atau pangkat dan jabatan, lebih tinggi dibanding lainnya dalam hal kehormatan, kesombongan, popularitas, keegoan pribadi, dll.Kalau mencermati makna sesungguhnya dari rangkaian nasehat bijak tersebut diatas, sesungguhnya bukan hal seperti ini yang menjadi makna terdalam. " Jadilah yang paling baik dari dua orang manusia" yang dimaksudkan adalah lebih baik dibanding orang lain dalam hal akhlak dan mengutamakan kepentingan orang lain. Menjadi lebih baik dibanding orang lain dalam hal memberikan manfaat bagi orang lain. Lebih baik dalam menjaga kemuliaan akhlak, kerendahan hati, lebih baik dalam berbagi kebaikan, kejujuran, menolong orang lain, mengembangkan sikap empati, mengedepankan cinta kasih dan kesetiaan.Aplikasinya dalam kehidupan, kalau kita sebagai pengusaha, lebih baik menjadi pengusaha paling baik dibandingkan orang lain dengan cara menjadi pengusaha sejati. Menjadi pengusaha yang berorientasi pada manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, pengusaha yang menjalankan bisnis dengan mengedepankan kejujuran, mengutamakan kepentingan konsumen, memberikan pelayanan yang baik, dll.Kalau kita saat ini masih bekerja sebagai karyawan, lebih baik berusaha menjadi karyawan paling baik dibandingkan dengan orang lain, dengan berusaha menjadi karyawan sejati. Selalu mengedepankan kewajiban dengan professional sebelum menuntut hak kita, mengembangkan diri dalam bidang yang ditekuninya, senang membantu orang lain, berusaha memberikan kualitas pelayanan terbaik, mengutamakan kepentingan orang lain, mengedepankan kejujuran, dll.Kalau anda sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai pasangan, sebagai saudara, sebagai tetangga, berusahalah menjadi paling baik diantara yang lain dalam hal mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain. Berusahalah selalu menghargai orang lain, bersikap empati, memahami kepentingan orang lain dan menjadikan orang lain merasa penting dan dibutuhkan.Marilah kita renungkan kembali, dalam berbagai bidang kegiatan kita, baik sebagai pengusaha, sebagai karyawan, sebagai keluarga, sebagai pemimpin, sebagai warga masyarakat, apakah sudah meneladani sikap menjadi yang paling baik dalam kemulian akhak dan mengutamakan kepentingan orang lain ?. Menjadi orang paling baik dalam kehidupan ini, bukan hanya diukur dari penampilan duniawi semata, tetapi diukur dari seberapa besar manfaat yang telah kita berikan dalam kehidupan. SEMOGA BERMANFAAT.

Cita-cita Yang Tertunda

Cita-cita Yang Tertunda
Oleh : Andrie Wongso

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup di keluarga yang sederhana. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi. Suatu saat, ketika masih belia, dia berkata kepada dirinya sendiri, "Suatu saat nanti, aku akan melakukan apa yang menjadi cita-cita dalam hidupku, dan pada saat itu aku akan bahagia."

Dia senang membayangkan dirinya sudah memiliki sebuah mobil mewah, mengendarainya, dan merasakan kebanggaan yang tidak terhingga karena dia dikagumi dan dibanggakan oleh banyak orang. Maka, walaupun kemiskinan tetap diakrabi dalam kesehariannya, sikapnya menjadi angkuh dan sombong karena dia merasa kelak pasti akan kaya raya seperti yang diangankan.

Ketika ditanya untuk melakukan sesuatu oleh teman-temannya, ia menjawab, "Tunggu saja kawan, nanti akan kulakukan setelah aku menyelesaikan sekolah."

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, ia kembali berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada orangtuanya bahwa ia akan melakukan apa yang diinginkannya nanti, setelah ia mendapatkan pekerjaan pertamanya.

Sebelum melangkah ke dunia kerja, dia meminta nasihat kepada seorang guru besar tentang banyak hal yang dicita-citakan. Si guru berkata, "Semua yang kamu inginkan, mobil dan rumah bagus lengkap dengan fasilitasnya, adalah sesuatu yang bagus. Dan sesungguhnya, mobil dan rumah mewah itu diciptakan untuk kita yang mau dan mampu memilikinya. Dia tidak kemana-mana, kitalah yang harus bergerak untuk menghampiri dan mendapatkannya."

Mendengar tuturan si guru, pemuda itu merasa puas. Sebab, ia makin yakin dengan anggapannya bahwa mobil dan rumah tidak akan ke mana-mana. Maka, ia pun bekerja seadanya. Setelah beberapa tahun bekerja, orangtuanya menanyakan, "Anakku, kapan kamu akan mengambil tindakan untuk mewujudkan cita-citamu?"

"Aku berjanji akan mengejar cita-citaku setelah menikahi gadis yang aku cintai. Karena dengan adanya si dia sebagai pendamping hidup, maka langkahku akan mantap untuk mengejar cita-citaku."

Sampai suatu hari, setelah bertahun-tahun kemudian, ia mulai menua. Dalam hati, ia pun berkata, "Rupanya, sudah terlambat untuk memulainya sekarang. Sebab, umurku sudah tak lagi muda."

Begitulah, cita-cita si pemuda akhirnya hanya menjadi angan-angan dan omong kosong belaka. Kini, ia hanya bisa merasakan kepuasan semu dengan menikmati setiap hari dalam kehidupannya untuk mengkhayal, seandainya ia menjadi seperti yang ia cita-citakan.

Pembaca yang bijaksana,

Kebiasaan menunda dari waktu ke waktu, dapat membuat seseorang yang pada awalnya bersemangat bermimpi, akan kehilangan gairah, arah, tujuan dan berlari menjauh dari apa yang menjadi impiannya. Sebab, menunda sebenarnya hanya akan mengubur kesempatan demi kesempatan yang ada untuk mewujudkan impian.

Karena itu, cita-cita selamanya akan menjadi khayalan belaka jika kita tidak memulainya dengan rencana! Dan, yang utama, rencana tanpa tindakan nyata juga hanya akan jadi bualan semata.

Mari, selagi masih ada waktu, gunakan sebaik-baiknya waktu kita untuk menyusun kehidupan dan meraih kesempatan, demi menggapai cita-cita.

Salam sukses luar biasa!!!

Andrie Wongso

Cita-cita Yang Tertunda

Cita-cita Yang Tertunda
Oleh : Andrie Wongso

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup di keluarga yang sederhana. Ia mempunyai cita-cita yang tinggi. Suatu saat, ketika masih belia, dia berkata kepada dirinya sendiri, "Suatu saat nanti, aku akan melakukan apa yang menjadi cita-cita dalam hidupku, dan pada saat itu aku akan bahagia."

Dia senang membayangkan dirinya sudah memiliki sebuah mobil mewah, mengendarainya, dan merasakan kebanggaan yang tidak terhingga karena dia dikagumi dan dibanggakan oleh banyak orang. Maka, walaupun kemiskinan tetap diakrabi dalam kesehariannya, sikapnya menjadi angkuh dan sombong karena dia merasa kelak pasti akan kaya raya seperti yang diangankan.

Ketika ditanya untuk melakukan sesuatu oleh teman-temannya, ia menjawab, "Tunggu saja kawan, nanti akan kulakukan setelah aku menyelesaikan sekolah."

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi, ia kembali berjanji kepada dirinya sendiri dan kepada orangtuanya bahwa ia akan melakukan apa yang diinginkannya nanti, setelah ia mendapatkan pekerjaan pertamanya.

Sebelum melangkah ke dunia kerja, dia meminta nasihat kepada seorang guru besar tentang banyak hal yang dicita-citakan. Si guru berkata, "Semua yang kamu inginkan, mobil dan rumah bagus lengkap dengan fasilitasnya, adalah sesuatu yang bagus. Dan sesungguhnya, mobil dan rumah mewah itu diciptakan untuk kita yang mau dan mampu memilikinya. Dia tidak kemana-mana, kitalah yang harus bergerak untuk menghampiri dan mendapatkannya."

Mendengar tuturan si guru, pemuda itu merasa puas. Sebab, ia makin yakin dengan anggapannya bahwa mobil dan rumah tidak akan ke mana-mana. Maka, ia pun bekerja seadanya. Setelah beberapa tahun bekerja, orangtuanya menanyakan, "Anakku, kapan kamu akan mengambil tindakan untuk mewujudkan cita-citamu?"

"Aku berjanji akan mengejar cita-citaku setelah menikahi gadis yang aku cintai. Karena dengan adanya si dia sebagai pendamping hidup, maka langkahku akan mantap untuk mengejar cita-citaku."

Sampai suatu hari, setelah bertahun-tahun kemudian, ia mulai menua. Dalam hati, ia pun berkata, "Rupanya, sudah terlambat untuk memulainya sekarang. Sebab, umurku sudah tak lagi muda."

Begitulah, cita-cita si pemuda akhirnya hanya menjadi angan-angan dan omong kosong belaka. Kini, ia hanya bisa merasakan kepuasan semu dengan menikmati setiap hari dalam kehidupannya untuk mengkhayal, seandainya ia menjadi seperti yang ia cita-citakan.

Pembaca yang bijaksana,

Kebiasaan menunda dari waktu ke waktu, dapat membuat seseorang yang pada awalnya bersemangat bermimpi, akan kehilangan gairah, arah, tujuan dan berlari menjauh dari apa yang menjadi impiannya. Sebab, menunda sebenarnya hanya akan mengubur kesempatan demi kesempatan yang ada untuk mewujudkan impian.

Karena itu, cita-cita selamanya akan menjadi khayalan belaka jika kita tidak memulainya dengan rencana! Dan, yang utama, rencana tanpa tindakan nyata juga hanya akan jadi bualan semata.

Mari, selagi masih ada waktu, gunakan sebaik-baiknya waktu kita untuk menyusun kehidupan dan meraih kesempatan, demi menggapai cita-cita.

Salam sukses luar biasa!!!

Andrie Wongso

04 April 2008

Free Piching: Suatu Tantangan yang harus Kita Hadapi Bersama

Upaya menarik fee creative secara pantas dari klien yang terbiasa membayar ongkos kreatif sangat murah, memang bukan soal gampang. ceritanya akan menjadi lain, andai kata pada awalnya fee creative dipatok secara pantas dan benar-benar terpisah jelas dari komisi media biling....... Setahun silam, usai pertemuan FDGI(forum Desain Grafis Indonesia) dimana Panitia bagi-bagi Stiker Bertuliskan Anti Free Pitching, seorang teman yang berkerja di advertising Agency sambil senyum-senyum mengungkapkan; "weleh ... ada-ada saja, mana bisa ngilangin free pitching...? Jika ditelusuri lebih lanjut, industri advertising di Indonesia terbiasa hidup dari komisi media biling, sementara pemasukan dari pekerjaan kreatif bisa dibilang menjadi pos pendapatan sekunder. hal inilah yang menyebabkan ongkos kreatif juga tidak mendapat atensi khusus. (pokoknya, asal bilingnya masuk, PO (Purchase Order) iklan diperoleh, maka perkerjaan kreatif akan diterima berapapun harganya. selain itu, hal ini membuat praktek free pitching yang tak lazim itu pun menjadi lazim. ini akhirnya membuat paradigma klien menjadi rusak. free pitching lalu dijadikan standard pembuka negosiasi. klien lalu cenderung menggap bahwa perkerjaan kreatif memiliki value yang lebih rendah dibandingkan dengan ongkos cetak dan ongkos tayang... Sialnya, sering kali klien-klien tersebut juga merupakan klien-klien industri desain grafis. klien yang sudah keenakan disodori "service" luar biasa tersebut cenderung menjadi pelit dan menuntut. ini membuat industri desain grafis industri yang boros, tidak efesien, serta berprofitabiltas rendah. tentunya keadaan ini bukan semata buah karya para pelaku industri advertising. banyak juga firma-firma desain, menagement consultant, percetakan, atau pun namanya yang menarik bayaran minim dari pekerjaan kreatif, karena terbiasa menikmati mark-up lumayan dari ongkos cetak. Senjata Makan Tuan Kembali ke Industri Advertising, model bisnis yang menekankan pada komisi media biling tersebut ampuh membawa para pelakunya ke suatu keadaan yang pelik. mungkin inilah penyebab mengapa beberapa adevertising agency baru-baru ini melakuakan PHK dala jumlah yang signifikan. Budiman Hakim, Creative Macs909 menulis suatu artikel menarik di Majalah ADOI tentang Industri Advertising Indonesia yang puyeng akibat gempuran jenis perusahaan yang relatif baru, yang disebut media specialist. berbeda dengan full Service Agency, Media Specialist. berbeda dengan full service Agency, media specialist cukup puas hanya dengan menerima komisi 3% dari media biling (bandingkan dengan nilai full service agency yang idealnya ada dikisaran 15%-16%). kesimpulannya dalam hal media placement, full service agency sangat sukar untuk bisa bersaing dengan media specialist. Namun Demikian, mencoba untuk menarik fee creative yang pantas kepada klien yang terbiasa mendapatkan ongkos kreatif secra murah bukanlah hal yang gampang. akibatnya profitabilitas habis! Keberuntungan Di Balik Musibah Tapi Coba Ambil Positifnya saja...memang banyak klien yang sudah terbiasa di-service dengan harga kreatif yang sangat murah, namun demikian, trend menunjukkan bahwa klien mulai memisahkan budget desain dan budget produksi (ongkos cetak/ ongkos tayang). mau tidak mau kita sebagai supplier harus membangun aliran income kita dari pos yang seharusnya, yaitu pos pendapatan dari jasa yang kreatif. selain lebih jujur, keputusan untuk tidak menyembunyikan biaya desain dalam biaya produksi (cetak, dll) akan memilki efek edukasi yang positif terhadap klien tentang value dari desai yang baik. Menurut pengalaman saya, desainer bahkan bisa membangun suatu hubungan bisnis yang sehat yang didasarkan atas trust (saling percaya) dan saling menghargai. kita perlu membuat klien mengahargai eksistensi kita sebagai penyedia jasa desain yang notabene suatu bentuk intelektualitas yang memilki nilai tambah. sudah selayaknya kita sebagai desainer yang kompeten berani memilih untuk berhubungan hanya dengan klien yang mengerti "Value of good design" dan mau merogoh kantongnya untuk nilai tambah yang kita ciptakan... tanpa nyali ini, kita cenderung dipandang rendah dan ditawar bak pedagang kaki lima....tak mudah melakukannya! tapi perlu diperjuangkan......

Kreatif itu, Butuh Nyali Gede

Kalau Bicara tentang Kreativitas, Biasanya akan nyasar pada hal-hal yang berbau seni, atau desain. Bisa jadi itu sebabnya sanggar lukis anak-anak cukup menjamur, karena banyak ortu yang ingin anaknya kreatif lalu menyuruh putra-putrinya les nggambar (meskipun banyak sanggar akhirnya malah membuat anak-anak menjadi tidk kreatif, karena metode pengajaran super baku, atawa asal tiru (istilah keren-nya step by step).

Tapi kalau ditanya, Seperti apa orang kreatif itu?, maka saya akan menjawab: orang kreatif itu adalah orang yang banyak akalnya, yang selalu berhasil nemu jalan keluar dan lolos meskipun kepepet. Jadi, nggak harus lulus sanggar lukis atau menang award kreatif dulu baru dibilang kreatif. Terlebih lagi, sama halnya dengan kemanjuran obat baru teruji saat diminum, akal atau ide tersebut baru ada gunanya saat dijalankan betapapun orisinal suatu ide, kalau ditanya direnung-renungkan saja = omong kosong!

Masalahnya, merealissikan satu ide bagus itu membutuhkan keuletan dan keberanian. Tentang pengalamannya dalam eksprimen penemuan bohlam lampu listrik, Thomas Alfa Edison pernah bilang bahwa, “tak sekalipun saya gagal! Malahan saya telah sukses membuktikan, bahawa ada 700 cara “menciptakan bohlam lampu.
Setelah saya mengeliminasinya satu per satu, maka saya akan menemukan cara yang tepat.” Segera Edison menjadi terkenal sebagai jenius kreatif.
Namun demikian, ceritanya akan lain bisa Edison patah arang dan menghentikan upayanya pada eksprerimen nomor 699.

Jadi, kreatif itu baru terbukti bila suatu ide akhirnya menjadi kenyataan alias berbentuk materi. Ada jazadnya. Dan bukan Cuma suatu ide yang sekedar menari-menari dibenak penciptanya atau berupa omdo (Omongan Doang)..

Implementasi
Bagian paling membosankan, menakutkan dan memerlukan ketekunan.
- Woody Allen, Seorang filmmaker terkenal yang memenangkan 3 piala oscar berujar, ”90% of success it just showing up!” Istilah Jawanya, sukses itu 90 %nya seseorang bersedia untuk hadir & Nongkrongin disitu sepenuh hati, sampai jadi!

Butuh nyali gede alau kita mau merelisasikan satu ide kreatif yang orisinal. Pasalnya sesuatu yang orisinal itu pasti baru, pasti nggak umum, kadang terlihat ganjil, challenging dan kadang kontroversial. Implikasinya, sesuatu yang baru itu belum tentu bisa diterima oleh pasar, jadi resikonya cenderung lebih besar ntuk merealisasikan ide orisinal kita.

Namun kalau mau yang resikonya rendah, ya nggak usah sok kreatif. Ikutin saja apa yang sudah ada, nyontek, atawa menjadi budak keinginan pasar, sambil berangan-angan menelorkan ide besar tanpa berani bertaruh/ ambil resiko dengan mengorbankan kondisi status quo, yang kadang kalah sangat nyaman (comfort zone).

Mungkin memang ada kalanya kita harus menjalani hidup berkreasi sesuai keinginan klien (amatir) kita. Istilahnya , apa saja di-turutin meskipun acapkali tak sesuai dengan esetika dan hati nurani, namun kreatif tahu bahwa hal itu hanyalah sementara - dan tetap bermimpi sekaligus mencari-cari jalan keluar untuk mencipta sesuatu yang lebih. Lihat aja Edo Kondologit penyaynyi bersuara emas yang pernah menjalani hidup jadi kuli bangunan , tukang sapu dan satpam, sampai akhirnya bisa ketemu jalan keluar untuk benar-benar jadi penyanyi top. Udah pasti dalam perjalanannya tak terhitung berapa banyak usaha yang gagal. Benar-benar ’usaha’, dan tak semata-mata wacana.

- Omong-omong soal wacana, studi banding, dll, mungkin Indonesia jagonya. Tapi sebenarnya, tanah ini nggak butuh orang-orang model begitu. Indonesia ini butuh orang-orang mau bersedia bekerja kers, berani ambil resiko mendobrak hal-hal yang terlihat impossible, bukan cuma bisa bikin sinetron kampungan atau cari celah agar dapat remah-remah objekan bikin website departemen ber-budget total 17,5 milyar!

Yang kayak gitu mah, sudah keseringan muncul dinegeri ini. Nggak kreatif banget, deh!!!

24 March 2008

MENCURI PERHATIAN AUDIENCE

Desain yang tak berhasil menyapa permirsanya atau dengan kata lain tak berhasil menarik perhatian audience, bisa dikatakan sebagai desain yang kurang kumikatif. ini dapat dianologikan sebagai sales credit card yang berjualan disuatu mal, tapi tak seorang pun yang lewat mau menghiraukannnya, alias dicuekin. menurut saya, problem dicuekkin tersebut erat hubungannya dengan bejibun-nya orang yang berfrofesi sebagai sales credit card. nah, untuk bisa sukses tidak dicuekkin butuh inovasi. entah mencoba tampil lebih cantik, wangi dan ramah, atau bertindak secara kreatif lainnya, semisal berjualan lewat friendster atau online forum.
Suatu ketika, ada teman yang berjualan credit card sebuah bank terkemuka lewat online forum kaskus, dan mendapat feedback luar biasa meledak, sampai-sampai posting-nya menempati ranking satu di search engine google, mengalahkan official site bank tempatnya bekerja tersebut. kejadian ini sampai ke headquater bank tersebut di New Yoyk, hingga si sales kreatif tersebut ditegur karena melangkah terlalu jauh..well, setidaknya ia sudah membuat gempar seluruh perusahaan. resiko yang pantas ditanggung, karena tak mungkin berharap bisa jualan banyak jika hanya berdiri membagikan brosur dimal , sebagaimana yang dilakuakan ribuan teman-teman sejawatnya.
Kondisi yang sama terjadi dibidang marketing communication (didalamnya ada juga unsur penting desain grafis) yang kita geluti bersama ini. terlalu banyak selebaran, terlalu banyak iklan, dan terlalu banyak perusahaan yang berusaha menyampaikan pesan pada audience yang sama.konon kabar dari sebuah badan riset, konsumen rata-rata diboombardir dengan 6000 persen marketing. jika sudah begini, maka para kreatif pencipta pesan (desainer grafis, art director, copy writer, dll) berada dalam kondisi persaingan yang mirip dengan para sales credit card tadi.tantangannya, bagaimana kita bisa menciptakan suatu komunikasi yang menarik agar tidak dicuekkin dan berhasil menyapa dengan manis, yang pada akhirnya meninggalkan impresi yang baik dalam hati audience, diikuti kenaikkan performance client yang kita wakili (dalam banyak hal, ini berupa kenaikkan penjualan).
Banyka mediocore yang sekedar mengejar volume perkerjaan dengan margin super tipis. ini seumpama para sales yang asal berdiri di mal membagikan flyer....