04 April 2008

Kreatif itu, Butuh Nyali Gede

Kalau Bicara tentang Kreativitas, Biasanya akan nyasar pada hal-hal yang berbau seni, atau desain. Bisa jadi itu sebabnya sanggar lukis anak-anak cukup menjamur, karena banyak ortu yang ingin anaknya kreatif lalu menyuruh putra-putrinya les nggambar (meskipun banyak sanggar akhirnya malah membuat anak-anak menjadi tidk kreatif, karena metode pengajaran super baku, atawa asal tiru (istilah keren-nya step by step).

Tapi kalau ditanya, Seperti apa orang kreatif itu?, maka saya akan menjawab: orang kreatif itu adalah orang yang banyak akalnya, yang selalu berhasil nemu jalan keluar dan lolos meskipun kepepet. Jadi, nggak harus lulus sanggar lukis atau menang award kreatif dulu baru dibilang kreatif. Terlebih lagi, sama halnya dengan kemanjuran obat baru teruji saat diminum, akal atau ide tersebut baru ada gunanya saat dijalankan betapapun orisinal suatu ide, kalau ditanya direnung-renungkan saja = omong kosong!

Masalahnya, merealissikan satu ide bagus itu membutuhkan keuletan dan keberanian. Tentang pengalamannya dalam eksprimen penemuan bohlam lampu listrik, Thomas Alfa Edison pernah bilang bahwa, “tak sekalipun saya gagal! Malahan saya telah sukses membuktikan, bahawa ada 700 cara “menciptakan bohlam lampu.
Setelah saya mengeliminasinya satu per satu, maka saya akan menemukan cara yang tepat.” Segera Edison menjadi terkenal sebagai jenius kreatif.
Namun demikian, ceritanya akan lain bisa Edison patah arang dan menghentikan upayanya pada eksprerimen nomor 699.

Jadi, kreatif itu baru terbukti bila suatu ide akhirnya menjadi kenyataan alias berbentuk materi. Ada jazadnya. Dan bukan Cuma suatu ide yang sekedar menari-menari dibenak penciptanya atau berupa omdo (Omongan Doang)..

Implementasi
Bagian paling membosankan, menakutkan dan memerlukan ketekunan.
- Woody Allen, Seorang filmmaker terkenal yang memenangkan 3 piala oscar berujar, ”90% of success it just showing up!” Istilah Jawanya, sukses itu 90 %nya seseorang bersedia untuk hadir & Nongkrongin disitu sepenuh hati, sampai jadi!

Butuh nyali gede alau kita mau merelisasikan satu ide kreatif yang orisinal. Pasalnya sesuatu yang orisinal itu pasti baru, pasti nggak umum, kadang terlihat ganjil, challenging dan kadang kontroversial. Implikasinya, sesuatu yang baru itu belum tentu bisa diterima oleh pasar, jadi resikonya cenderung lebih besar ntuk merealisasikan ide orisinal kita.

Namun kalau mau yang resikonya rendah, ya nggak usah sok kreatif. Ikutin saja apa yang sudah ada, nyontek, atawa menjadi budak keinginan pasar, sambil berangan-angan menelorkan ide besar tanpa berani bertaruh/ ambil resiko dengan mengorbankan kondisi status quo, yang kadang kalah sangat nyaman (comfort zone).

Mungkin memang ada kalanya kita harus menjalani hidup berkreasi sesuai keinginan klien (amatir) kita. Istilahnya , apa saja di-turutin meskipun acapkali tak sesuai dengan esetika dan hati nurani, namun kreatif tahu bahwa hal itu hanyalah sementara - dan tetap bermimpi sekaligus mencari-cari jalan keluar untuk mencipta sesuatu yang lebih. Lihat aja Edo Kondologit penyaynyi bersuara emas yang pernah menjalani hidup jadi kuli bangunan , tukang sapu dan satpam, sampai akhirnya bisa ketemu jalan keluar untuk benar-benar jadi penyanyi top. Udah pasti dalam perjalanannya tak terhitung berapa banyak usaha yang gagal. Benar-benar ’usaha’, dan tak semata-mata wacana.

- Omong-omong soal wacana, studi banding, dll, mungkin Indonesia jagonya. Tapi sebenarnya, tanah ini nggak butuh orang-orang model begitu. Indonesia ini butuh orang-orang mau bersedia bekerja kers, berani ambil resiko mendobrak hal-hal yang terlihat impossible, bukan cuma bisa bikin sinetron kampungan atau cari celah agar dapat remah-remah objekan bikin website departemen ber-budget total 17,5 milyar!

Yang kayak gitu mah, sudah keseringan muncul dinegeri ini. Nggak kreatif banget, deh!!!

24 March 2008

MENCURI PERHATIAN AUDIENCE

Desain yang tak berhasil menyapa permirsanya atau dengan kata lain tak berhasil menarik perhatian audience, bisa dikatakan sebagai desain yang kurang kumikatif. ini dapat dianologikan sebagai sales credit card yang berjualan disuatu mal, tapi tak seorang pun yang lewat mau menghiraukannnya, alias dicuekin. menurut saya, problem dicuekkin tersebut erat hubungannya dengan bejibun-nya orang yang berfrofesi sebagai sales credit card. nah, untuk bisa sukses tidak dicuekkin butuh inovasi. entah mencoba tampil lebih cantik, wangi dan ramah, atau bertindak secara kreatif lainnya, semisal berjualan lewat friendster atau online forum.
Suatu ketika, ada teman yang berjualan credit card sebuah bank terkemuka lewat online forum kaskus, dan mendapat feedback luar biasa meledak, sampai-sampai posting-nya menempati ranking satu di search engine google, mengalahkan official site bank tempatnya bekerja tersebut. kejadian ini sampai ke headquater bank tersebut di New Yoyk, hingga si sales kreatif tersebut ditegur karena melangkah terlalu jauh..well, setidaknya ia sudah membuat gempar seluruh perusahaan. resiko yang pantas ditanggung, karena tak mungkin berharap bisa jualan banyak jika hanya berdiri membagikan brosur dimal , sebagaimana yang dilakuakan ribuan teman-teman sejawatnya.
Kondisi yang sama terjadi dibidang marketing communication (didalamnya ada juga unsur penting desain grafis) yang kita geluti bersama ini. terlalu banyak selebaran, terlalu banyak iklan, dan terlalu banyak perusahaan yang berusaha menyampaikan pesan pada audience yang sama.konon kabar dari sebuah badan riset, konsumen rata-rata diboombardir dengan 6000 persen marketing. jika sudah begini, maka para kreatif pencipta pesan (desainer grafis, art director, copy writer, dll) berada dalam kondisi persaingan yang mirip dengan para sales credit card tadi.tantangannya, bagaimana kita bisa menciptakan suatu komunikasi yang menarik agar tidak dicuekkin dan berhasil menyapa dengan manis, yang pada akhirnya meninggalkan impresi yang baik dalam hati audience, diikuti kenaikkan performance client yang kita wakili (dalam banyak hal, ini berupa kenaikkan penjualan).
Banyka mediocore yang sekedar mengejar volume perkerjaan dengan margin super tipis. ini seumpama para sales yang asal berdiri di mal membagikan flyer....

15 June 2007

TENGANAN & Kain Geringsingnya

TENGANAN & Kain Geringsingnya
Oleh : Widya Prabandari

Tenganan adalah sebuah desa terpencil di Kabupaten Karangasem, sekitar 65 kilometer dari kota Denpasar, Bali. Desa ini terbilang tetap tegar bertahan dalam arus globalisasi yang pesat akan perkembangan teknologi dan informasi. Tenganan selama ini kurang ”terdengar” dalam peta pariwisata di Pulau Bali. Jangankan dengan Kuta, Ubud atau Sanur. Dengan Candidasa yang berdekatan dengan lokasi tersebut Tenganan memang kalah santer terdengar dalam objek pariwisatanya.
Masyarakat Tenganan cukup berhasil mempertahankan tradisinya hingga sekarang ini, mereka masih berpegang teguh pada awig-awig atau peraturan adat desa yang ditulis sejak abad ke 11 dan diperbaruhui tahun 1842 karena yang asli terbakar. Kehidupan masyarakat Tenganan, walaupun nantinya sudah menerima masukan dari “dunia luar”, tentu tidak semudah itu akan bisa berubah cepat, karena awig-awig tetap memilki peran dan fungsi sentral. Berbeda halnya dengan Kuta yang sudah penuh gebyar dengan kehadiran hotel dan arus wisatawan yang melimpah, Tenganan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam, dengan deretan rumah adat yang satu sama lain sama persis dengan garis keturunan yang dipertahankan keasliannya dengan sesama warga desa.
Penanganan pariwisata di Tenganan kurang terprogram dengan baik, terasa ketika wisatawan pertama kali menginjakan kakinya memasuki objek wisata hanya ada sebuah pintu “gerbang” sempit yang hanya cukup dilewati satu orang. Sebelum masuk wisatawan harus menyumbang secara sukarela kepada petugas dan mengisi buku tamu. Tidak ada tiket masuk ke desa yang sekaligus menjadi objek wisata itu, di Tenganan sistem Barter yang digunakan semua perdagangan berdasarkan pada kepemilikan kolektif atas tanaman, sawah dan kerbau yang dibiarkan berkeliaran bebas di kawasan desa.
***
Inikah yang menjadi pertayaan dalam tulisan ini, Apakah Tenganan identik dengan kain Geringsingnya ? kain Geringsing Tenganan memang sangat penting untuk upacara-upacara tradisi di desa setempat, juga di desa-desa sekitarnya, seperti Tenganan Dauh Tukad, Bugbug sampai Bungaya. Kain ini dianggap penting dan sakral sehingga kerap dikenakan masyarakat setempat saat upacara besar seperti ngasaba desa ?.
Ada tiga elemen warna pada kain Geringsing yakni merah, hitam dan kuning. Ketiga warna itu diduga merupakan simbol Tri Murti, yakni merah (api sebagai simbol Brahma), Hitam (air sebagai simbol Wisnu) dan kuning (Angin sebagai simbol Siwa). Ketiga unsur tersebut menurut klepercayaan masyarakat Tenganan merupakan hal yang terpenting bagi manusia tanpa Api, Air dan Angin manusia tidak bisa hidup di alam semesta ini.
Untuk warna merah sendiri didapat dari akar sunti asal Nusa Penida, sementara warna kuning berasal dari minyak kemiri. Agar warna bisa masuk ke dalam serat-serat benang dengan sempurna memakan proses yang panjang. Untuk warna kuning saja butuh waktu selama satu bulan tujuh hari. Warna merah setidaknya perlu proses selama tiga hari. Seterusnya, secara total keseluruhan dari awal proses pencucian-penjemuran-penyimpan memakan waktu kurang lebih tiga bulan.
Dulu, terbatasnya penenun kain geringsing, selain karena prosesnya amat sulit dan memerlukan waktu lama, juga bahan pewarna kain sulit didapat. Bahan pewarna benang untuk ditenun menjadi kain geringsing, berupa getah pohon tibah (mengkudu) hanya khusus didapatkan di Nusa Peninda. Sementara kulit akar mengkudu di luar Nusa Penida menghasilkan warna merah kekuningan.
Keterbatasan tersebut ditambah lagi dengan jumlah penenun kain khas Tenganan ini hanya lima orang itu pun perajinnya tergolong kalangan wanita tua, tapi kini jumlah perajin telah mencapai puluhan, dan banyak dari kalangan wanita muda. Namun disayangkan terjadi pergeseran tujuan dari tradisi menenun kain geringsing, kalau dulu penenun hanya berorentasi pada bakti untuk sarana atau busana upacara keagamaan, kini penenun mulai berorentasi untuk tujuan komersil pasar. Sehingga dalam proses pewarnaan benang ataupun penenunan mulai mengarah pada efesiensi waktu.
Belakangan ini pewarnaan benang untuk kain geringsing yang di jual belakangan ada yang lebih cepat, yakni dua sampai empat tahun. Dalam periode tertentu, benang yang tengah dicelup kerap dibuka atau diangkat, guna melihat apakah warnanya sudah cukup untuk ditenun. Belakangan ini ada beberapa benang yang sudahtak bisa menyerap warna dari larutan kulit akar mengkudu. Oleh karena itu, perlu dicari benang yang masih memungkinkan bisa ditenun menjadi kain geringsing. Terjadi pergeseran orientasi kerajinan menenun kain geringsing ini ada baiknya, jumlahnya kian bertambah dan tak ada kekhawatiran lagi bahwa kain bercorak khas ini kelamaan punah ditelan moderenisasi.
Di artshop dekat pintu masuk ke desa Tenganan selembar kain geringsing yang lebarnya dua jengkal tangan dengan panjang seperti selendang. seharga Rp 400.000, sampai Rp 1 Juta. Banyak wisatawan asing maupun domestik terkejut, heran dengan harga fantastik ini, memang jauh berbeda dengan kain hasilan pabrikan yang dijumpai di toko tekstil.
Kendati kain tenun tradisional etnik lain membanjiri pasar batik di Bali, tampaknya hal itu tak terlalu berpengaruh terhadap pasar produk kain geringsing yang diproduksi warga Desa Tenganan Pagringsingan. Kain etnik khas produksi asli warga Tenganan ini sudah banyak dikenal orang tidak hanya di pasar lokal tetapi di pasar internasional karena dari segi harganya yang bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk sebuah kain tenun Geringsing yang klasik.
Untuk harga selembar kain geringsing memang harga yang ditawarkan cukup tinggi dan eksklusif dikarenakan proses pembuatannya memakan waktu lama dan juga butuh perlakuan khusus, untuk penggunaan warnanya masih secara alamiah dari tumbuh-tumbuhan. Kain geringsing yang terbuat dari benang single juga lebih murah. Jadi, harga kain geringsing itu tergantung dari kualitas atau proses pembuatannya, warna, pola atau coraknya
Berbeda dengan harga kain geringsing yang ada di artshop dekat pintu masuk desa Tenganan, kain geringsing yang asli dengan ukuran kecil bisa mencapai Rp 7,5 juta sampai Rp 10 juta. Jika kualitas dan ukuran yang sedang berkisar Rp 10 juta sampai 12 juta. Makin rumit pola dan corak makin lama proses pengerjaannya dan umumnya makin tinggi nilainya. Apabila ada kain geringsing yang tergolong kuno, masih bagus kualitas warnanya serta utuh nilainya bisa mencapai ratusan juta.
Nah jika ada hal-hal yang “khas” di Tenganan selain masyarakatnya yang memunculkan perasaan halus berbau ironis ketika meyaksikan “keterasingan” dan kesederhanaan mereka. Jika dimungkinkan, tanpa harus melanggar awig-awig tinggalan para leluhur, masyarakat Tenganan sebaiknya dilatih untuk bisa menangkap peluang, mengelola pariwisata dan bukan membunuh potensi pariwisata desa Tenganan sendiri, dengan pengelolaan pariwisata yang baik diharapkan perkembangan tersebut tanpa merusak tradisi yang sudah lama terjaga. (nymph)

GALERI-KU SEKARANG JADI GUDANG KRIYA

GALERI-KU SEKARANG JADI GUDANG KRIYA
A.B Justiwiasro
Patut disayangkan sekali tulisan ini diterbitkan kembali, dikarenakan tulisan sebelumnya tidak ditanggapi dengan serius oleh pihak jurusan kriya, mungkin bapak dan ibu dosen sedang sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga pendapat mahasiswanya dilupakan begitu saja. Bagaimana keadaan kampus kriya ini dapat berkembang lebih baik lagi kalau setiap ada wacana dan permasalahan yanmg berkembang tidak pernah ditanggapi dengan serius, mentok-mentoknya paling diberikan janji-janji manis yang tidak pernah didapatkan jalan keluarnya.
Kurang pedulinya pihak jurusan beserta jajarannya terhadap pemeliharan inventaris kampus sendiri patut dipertayakan, apa karena keterbatasan dana dari pusat sehingga pemeliharan dilupakan begitu saja itu bukan suatu alasan yang mendasar dan itu semua tanggung jawab oleh pihak jurusan mengenai pemeliharan inventaris kampus. Jangan selalu mencari kambing yang berwarna hitam sebaiknya carilah kambing yang berwarna putih yang dapat dijadikan jalan keluar yang terbaik tetapi tidak merugikan orang lain dan tidak menimbulkan masalah baru lagi yang lebih rumit, itu kiranya sesuatu yang bijaksana sekali bila semua dikerjakan sesuai dengan tanggung jawab dari masing-masing pihak.
Inventaris yang dimiliki jurusan kriya memang agak banyak mulai dari mesin praktek yang banyak tidak berfungsi sampai dengan barang yang tidak habis dipakai dan tersimpan digudang. Saat ini galeri kriya lah yang disorot karena keberadaannya kurang membanggakan hampir mirip dengan gudang kriya yang selalu dikunci seakan-akan tak bersahabat dengan mahasiswanya. Masukkan dan kritikan yang ditujukan kepada pihak jurusan mengenai keadaan galeri kriya yang keadaannya sudah disampaikan dalam edisi ke-04 kemaren tetapi sampai saat ini belum ditanggapi dengan serius hanya berupa janji-janji manis dari pihak jurusan
Galeri yang seharusnya dapat dijadikan sebuah cerminan untuk mengukur sejauh mana prestasi akedemik dari mahasiswa kriya pertahunnya dapat dipantau selalu. Layak sebuah galeri yang setiap harinya dibuka dan terlihat bersih selalu, keadaannya sangat jauh sekali dengan galeri kriya yang kita miliki. Kalu tidak bisa setiap harinya dibuka dan bersihkan minimal 2 kali dalam seminggunya. Diharapkan dengan galeri kriya ini mahasiswa dapat termotivasi ketika mereka sering melihat karya-karya dari seniornya sehingga galeri kriya ini bisa menambah refrensi dan literautr mereka dalam berkarya.
Tulisan memng sedikit mendesak dan memberi tekanan agar bisa ditanggapi oleh pihak jurusan di depan publik agar semua tahu terutama adik-adik angkatan ’02 yang belum banyak mengetahui bahwa jurusan kriya sendiri punya galeri sendiri walaupun keadaannya sangat memperhatikan sekali. Terima kasih banyak, kita bersama bersatu demi majunya kriya kita. Mari Terus-lah berkriya.

DINAMIKA PERKEMBANGAN SENI KRIYA

DINAMIKA PERKEMBANGAN SENI KRIYA
Oleh : SP Gustami

Proses pembentukan seni kriya di Indonesia berlangsung tumpang tindih, kait mengait. Eksistensinya berlangsung dari masa ke masa menembus periode zaman. Kehadirannya memperkaya khasanah seni budaya bangsa, beberapa bidang di antaranya menjadi tradisi, beberapa lainnya mencapai tingkat klasik. Pencapaian kualitas estetik yang klasik itu dikarenakan proses penciptaannya dilandasi eksplorasi mendalam disertai perancangan yang mantap, sehingga produk yang dihasilkan diterima masyarakat luas, meskipun didera gelombang perubahan zaman.
Sejak bergulirnya faham antroposentrisme dan bergulirnya revolusi industri, perkembangan seni kriya di Eropa Barat mengalami lompatan yang sangat dashyat, sejalan dengan berkembanganya ilmu pengetahuan dan teknologi. Di Barat, perkembangan bidang keteknikan, yang semula merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas kekriyaan di guilde-guilde art and craf, yang memperlihatkan kemajuan yang spektakuler, meskipun perkembangan mendapat kritik yang tajam dari kalangan ahli seni. Perdebatan itu dipicu oleh interprestasi kalangan kriyawan yang mengangap menuai badai pengorbanan sisi kemanusia di tengah kemajuan produk massa industri pabrik. Perkembangan seni kriya di Indonesia, mestinya seiring perjalanan panjang budaya bangsa yang berlangsung sejak zaman prasejarah, Hindu, Islam, dan moderen. Dalam kenyataan, perkembagan terasa mandeg, akibat kejenuhan pola pikir ketimuran yang tidak direalisasikan dalam kehidupan nyata. Kurangnya para ahli seni kriya Indonesia mencari dan menemukan konsep penciptaan seni kriya baru sesuai perubahan dan perkembangan zaman, berakibat redupnya kreatifitas. Kelemahan ini memberi peluang masuknya relokasi seni kriya dari luar Indonesia.
Kepekaan kriyawan Indonesia terhadap situasi dan kondisi zaman tampaknya kurang terpupuk, padahal dari waktu ke waktu selalu timbul tantangan baru akibat derasnya perubahan perilaku dan tindakan sosial yang terus bergulir. Yang mengenaskan adalah, setiap usaha pembaharuan yang diperjuangkan oleh kriyawan justru menghadapi benturan kekwatiran sementara pihak, tanpa solusi Kelompok ini mengharapkan visi seni kriya tetap berada pada jalur pemikiran tradisional, menuntut tetap pada tugas fungsionalnya tanpa material, yang perlu diberi jawab. Tentu disadari bahwa akibat timbulnya diferensiasi, diversifikasi, dan spesialisasi banyak dibidang keahlian seni yang berkembangan secara otonom dan menjadi disiplin tersendiri. Cabang seni-seni yang masih tergabung dalam seni kriya seolah kehilangan mata rantai pengikat dengan cabang-cabang seni tersebut.
Dalam era keterbukaan terdapat kecenderungan persaingan yang ketat di berbagai bidang keahlian dengan tanda-tanda melebarnya kesenjangan sosial akibat merebaknya tekanan ekonomi, polotik dan budaya. Kerasnya persaingan itu memposisikan kehidupan umat manusia tergantung pada kesepakatan-kesepakatan nasional, internasional, bilateral dan multilateral. Meskipun demikian, seni kriya memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh, karena didukung oleh seni budaya masa lampau yang melimpah Apalagi pengembangnya dilandasi eksploarsi mendalam dan didukung penguasaan teknologi maju, maka hasil yang dicapai diharapkan dapat memenuhi tuntutan mutu bahan, mutu proses, mutu produk, mutu pengelolaan, dan mutu layanan. Pengembangan yang tidak alergi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta dilandasi konsep nilai yang sejalan dengan jiwa zaman, sangat mungkin hasilnya memiliki roh dan nafas kehidupan yang dialogis selaras kondisi-kondisi penyertaannya. Dengan demikian meskipun kedudukan seni kriya dihadapkan pada berbagai tantangan dan kendala, namun dipastikan eksistensinya tetap relevan dengan kehidupan masa kini dan masa datang.
Implikasi seni kriya masa depan diliputi oleh kenisbian batas-batas teritorial, kenisbian batas waktu, berkembangnya individualisme, tumbuhnya sikap kolektivitas, timbulnya tata nilai baru dalam masyarakat, mekarnya sikap demokratisasi dalm konteks sosial, politik, ekonomi, seni, budaya dan agama. Rendahnya kritik seni kriya, diantaranya disebabkan oleh minimalnya pameran yang diselenggarakan, disamping sedikitnya kesediaan kriyawan menungkapkan penalaran dan pemikirannya. Penyelenggaran pameran seni kriya yang minimal itu berakibat kritik seni kriya sangat miskin, tingkat apresiasi masyarakat lemah, terlelap. Hal ini membuka peluang merebaknya relokasi gaya seni kriya Eropa Barat itu, keberadaan seni daerah setempat tersisih tak berkembang. Kontribusi relokasi seni Eropa Barat di beberapa daerah di Indonesia. Akibat relokasi gaya seni Eropa Barat itu, keberadaan gaya seni daerah tersisih, tak berkembang. Kontribusi relokasi gaya seni Barat itu sesungguhnya hanya sampai pada batas menopang imbuhan sementara pendapatan kriyawan. Di bidang sering terlihat perubahan dramtis terputusnya hubungan masa kini dengan masa lampau, sehingga seni masa lampau terancam kehancuran. Oleh sebab itu, perlu disadari agar kelahiran seni kriya yang baru tidak kehilangan relevansi dengan akar budaya komunitas penyangganya. Jika tidak demikian, hasil yang dapat dicapai akan memperlihatkan situasi seni dan seniman menjadi kacau dan bingung. Tentu disayangkan bila kehadiran seni baru lantas kehilangan mainsteram, nilai spirit, ruh dan jiwa komunitas penyanggaanya. Apalagi sebagai akibat pengaruh Eropa Barat yang dashyat itu. Betapa buruknya meninggalkan warisan budaya sendiri kemudian berpaling ke budaya asing. Karena itu, diperlukan pemikiran mendalam, akankah kita meniru pola pengembangan seni kriya di Eropa Barat yang berakibat timbulnya kemerosotan sendi-sendi kemanusian yang dengan menempatkan pribadi manusia sekedar sebagai pelengkap pabrik industri massa. Ataukah, berdasarkan pengalaman itu dicari solusi paradigma baru, misalnya dengan memadukan konsep pemikiran Timur (metafisika) dengan pemikiran Barat (rasional) berlandaskan keyakinan (imani) besarnya kuasa Tuhan. Hal itu berarti berpadunya secara sinergis aktifitas fakultas rasio, fakultas rasa, fakultas iman. Dengan demikian akan ditemukan sintesa baru filosofi estetik penciptaan seni kriya yang sinergis dan komprehensif, sehingga hasil-hasilnya akan bermanfaat bagi kehidupan masa kini dan masa depan.
Kehidupan moderen ditandai pemikiran rasional yang mengantarkan berkembangnya ilmu pengetahuaan dan teknologi. Sejak itu kehidupan manusia diselimuti oleh tujuan-tujuan material, meskipun terkadang berlindung di balik nilai-nilai kemanusiaan, tampaknya lebih cenderung sebagai slogan semata, sebagai tameng perjuangan untuk memuaskan tujuan material. Dewasa ini telah terjadi paradigma baru, yakni para penyangga seni kriya menjadi penentu arah kegiatan penciptaan, masyarakat memiliki kemerdekaan dan hak penuh menetapkan pilihannya. Sebab itu, para kriyawan dewasa ini harus berjuang keras merebut pengemarnya secara kompetitif. Meskipun demikian, dengan penuh keyakinan kehadiran seni kriya senatiasa akan mendapat tempat di hati pengemarnya, sepanjang kehadirannya sejalan dengan kemajuan dan jiwa zaman.
Kepada kelompok Kambium, yang saat ini mengelar pameran, saya ucapkan selamat telah mengisi dinamika perkembangan seni kriya, selamat berjuang dan sukses. Terima kasih.

Inovasi dan Teknologi Produk Kriya Di Era Globalisasi

Inovasi dan Teknologi Produk Kriya Di Era Globalisasi
Arif Suharson S.Sn

Perkembangan Teknologi khususnya teknologi elektronika dan teknologi informasin pada era globalisasi ini telah berkembang sedemikian hebatnya, dan menghilangkan batas-batas jarak dan waktu yang ada. Perkembangan teknologi juga telah mempengaruhi berbagai lapisan masyarakat, serta menimbulkan gagasan-gagasan baru pada masyarakat. Kejadian-kejadian dibenua lain dapat segera kita lihat di Indonesia termasuk perkembangan dunia industri, model, musik, bahkan produk-produk kerajinan dapat diakses dengan mudah selama fasilitas untuk itu tersedia.
Melihat kenyataan ini kita akan selalu tertinggal satu langkah jika hanya mengandalkan produk kriya yang kita unggulkan just stay and see. Tanpa adanya inovasi, produk yang kita angap unggul ini akan menjadi produk yang lama-kelamaan tidak mempunyai nilai. Ada pendapat bahwa kalau kita mempertahankan tradisi yang ada, kita tetap akan hidup. Semakin langka produk kita semakin mahal produknya, dalam syair lagu Iwan Fals, mengatakan mungkin akan jadi barang antik yang harganya selangit.
Pernyataan diatas masih banyak dianut perajin kita terutama di daerah pedesaan. Para perajin pada umumnya masih kesulitan untuk membuat produk yang sifatnya baru. Pada benak mereka hanya terpikir bagaimana mendapatkan uang dengan cepat dari pada membuat produk yang sifatnya baru dan belum tentu laku dijual. Perubahan yang ada dalam dunia industri produk harus kita sadari. Tetapi bukan langsung merombak dan meninggalkan ciri khas unggulan prduk tersebut. Dengan semakin mudahnya masyarakat menikmati budaya bangsa lain, maka proses akulturasi kebudayaan ini terjadi pada berbagai bentuk kesenian, termasuk kedalamnya ialah produk-produk kriya.
Teknolgi telah menjadi alat yang sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran budaya dan berpengaruh terhadap berbagai system produksi seni kriya. Kita ambil contoh produksi seni batik, mulai dari proses pengerjaannya harus melalui tahapan-tahapan dari mendesain pola, mencanting, memberi warna, nembok, ngelorot dan seterusnya sampai menjadi batik tulis. Sekarang dengan perkembangan teknologi mesin semua langkah diatas dapat dikerjakan sekaligus dengan cetak/ printing. Demikian juga di keramik, proses pembuatan produk juga menggunakan cetak bahkan dalam kemajuan teknologi dalam proses produksi keramik yang lama menjadi cepat. Pengeringan dengan sinar matahari sudah diubah menggunakan mesin pengering tenaga listrik. Bahkan dalam industri besar sudah menggunakan mesin berjalan yang urutan produksinya cetak, pengeringan, pembakaran dan glasir dapat dilakukan sekaligus. Tentu masih banyak contoh lainnya disekitar lingkungan kita.
Kemajuan teknologi mesin untuk produksi massal telah mendorong kalangan industri menjangkau wilayah seni. Mesin tersebut dapat menunjukkan pengoperasian yang sempurna tetapi masih terbatas untuk mengambil alih bagian yang bersifat pengulangan dari suatu proses. Pada kenyataannya kerja mesin tidak dapat meniru dari kerja seni tangan manusia. Keunikkan dari produk hasil kerja tangan didasarkan pada keistimewaan dari tehknik pembuatan dan perlakuan produk yang khusus yang sering kita sebut dengan istilah Craftmanship. Tetapi dalam menciptakan produk kriya tidak semuanya dikerjakan oleh tangan-tangan yang terampil, sebagian lainnya sudah menggunakan alat bantu mesin untuk mengatasi masalah dalam pencapaian kuantitas dan kualitas produksi dengan tepat dengan tepat, cepat, dan efektif. Hubungan manusia dan mesin haruslah menjadi hubungan yang simbiotik. Pada prinsipnya bagaimana menyesuaikan diri terhadap perubahan mekanis teknologi yang cepat, bahwa kita harus memanfaatkan kedudukan mesin pada bagiannya sendiri, karena manusia tumbuh dan berkembang dengan mencari kebebasan akan kreatifitas.
Pengamatan yang telah dilakukan dalam seni kriya, khususnya dalam hasil produk kerajinan, ternyata penggunaan teknologi ini berkaitan erat dengan inovasi, kreatifitas, dan aplikasi teknologi itu terhadap proses produksi. Mengenai inovasi dan kreatifitas itu sendiri antara lain dikatakan sebagai gagasan atau praktek atau obyek yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau oleh pengadopsi lainnnya, yang saling berhubungan untuk memecahkan masalah dan untuk mencapai keberhasilan. Inovasi tersebut bisa meliputi perubahan-perubahan teknologi, pengetahuan, prilaku atau keputusan untuk menggunakannya dan juga proses-proses produksi baru. Adapun faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan inovasi adalah adanya kesadaran individu akan kekurangannnya, adanya kualitas ahli untuk meningkat diri, dan perangsang bagi aktifitas penciptaan dalam masyarakat.
Untuk menciptakan produk-produk kriya di era globalisasi ini, kita sebagai kriya harus kaya akan inovasi dan ide-ide desain yang kemudian digabungkan dengan hasil-hasil studi pasar observasi produk yang ada dimasyarakat, untuk dijadikan bahan masukan pada saat rancangan desain akan dimulai. Kreatifitas bukanlah suatu permunculan ataupun penciptaan ide-ide yang bebas dan lepas begitu saja, tetapi harus tetap dapat menyesuaikan dengan tradisi, lingkungan, dan pendapat masyarakat.
Munculnya inovasi baru biasanya diawali dengan persoalan-persoalan yang timbul dalam masyarakat. Atas dasar persoalan yantg timbul, kita sebagai Kriyawan yang berpendidikan atau mengerti masalah yang terjadi harus tanggap dan segera melakukan penelitian dan pengembangan teknologi yang disertai dengan inovasi yang inovatif dalam rancangan desain baru yang ditujukan kepada masyarakat. Dari permasalahan diatas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya kecepatan dalam membaca situasi di era globalisasi, khususnya kebutuhan pengrajin produk-produk kriya yang sangat membutuhkan kekayaan akan ide inovatif serta imaginasi untuki menciptakan atau mengembangkan desain-desain produk baru. Teknologi semata-mata tidak harus dengan menggunakan mesin tetapi dengan membuat pengembangan dan desain baru sudah merupakan teknologi yang sesungguhnya.
Tugas pokok yang harus kita kerjakan sebagai kriyawan adalah segera menyesuaikan diri dalam dunia perubahan mekanis yang cepat dan dapat menjawab tantangan inovasi dan teknologi di era globalisasi, serta menberikan peranan nyata dalam memajukan Kriya di Indonesia.

Mengolah rasa

Ananta Oedan

Mengolah rasa kemudian dimaksimalkan diperuntukkan bagi siapa!!! Dalam satu pihak, detak dan denyut artistic yang sama dapat pula diekpresikan dan diketahui dalam banyak media. Kriya tidak lagi memiliki anak tunggal. Agenda wacana tersebut adalah jelas untuk kita semua untuk membentuk citra rasa yang amat tinggi. Dan kemudian dipersembahkan kepada penikmat “Dari kita untuk semua”. Paduan jaman yang sudah merupakan juga sebuah pigmen warna. Bahasa dan olah gerak kriya dipadu lewat medium pokok yang memang kompleks dan pokok dapat memberikan bentuk dan sifat subjektif kriya seni.
Pada kesimpulan saya pribadi………..
Bahwa pengelompokkan dan golongan adalah wacana yang dibuat hanya untuk konsumsi orang yang akan haus, akan eksistensi pribadi saja. Tuntutan pembebasan yang sekarang belum mendapat kesempatan yang luas…..jika hal tersebut dipangkas habis…..tentu memerlukan waktu yang sangat panjang. Rentang ini harus terus dipintal agar tidak putus. Posisi, kesamaaan dan alur “art” secara teori lampau tak ada batas, hanya membuat senang kemudian dipakai untuk konsumsi sendiri. Tetapi……sekarang jelas sudah berubah, individu kriya tetap harus kritis mengolahnya, agar tempat dan wadah kriya semakin penuh dengan warna. Berlomba untuk membuat yang baru (pinjam kata dari: Edo) agar tidak lagi menjadi terkikisnya kepercayaan diri. Sekali lagi………..kriya butuh Pembebasan. Dengan tidak mengesampingkan induk kriya itu sendiri. Agar tidak terdapat pula kesenjangan wacana kriya yang memang sering dipertanyakan khalayak umum. Untuk saya pribadi………..!!!!
Yang penting berkarya Bung………….!!! Dengan media apapun.